Posted by Setiawan
Saat ini mulai banyak Muslim Indonesia (terutama
remaja dan pemudanya) yang merayakan Hari “Kasih
Sayang” Saint Valentine (Valentine’s Day). Dengan
pacarnya mereka berpegangan mesra bahkan lebih dari
itu. Di Barat sendiri, kaum remaja dan pemuda kafir
(misalnya SMA atau Perguruan Tinggi) biasa
mengadakan Pesta Perayaan Hari St Valentine.
Biasanya mereka berpasangan pria dan wanita. Kadang
ada kamar khusus untuk berzinah. Bisa juga mereka
melakukan perzinahan usai pesta Valentine tersebut.
Dari situ kita tahu bahwa Hari St Valentine itu lebih
kepada hawa nafsu atau maksiat perzinahan. Bukan
kasih sayang! Itu satu budaya kafir yang buruk yang
tidak pantas ditiru!
Islam mengajarkan kita untuk menjalin Silaturrahim.
Tali Kasih Sayang. Membantu sesama seperti
menolong fakir miskin dan menyantuni anak yatim.
Dan itu dilakukan setiap hari mulai dari
mengucapkan salam kepada sesama saat bertemu
dan menebar senyum. Tak terbatas kepada wanita
pasangannya. Dalam Islam kita dilarang mendekati
perbuatan zina.
Sementara Hari Raya Saint Valentine itu cuma
setahun sekali. Itu pun umumnya ke pacarnya/
pasangannya yang mengarah pada perbuatan
mesum/zinah. Jika sudah hamil, “kekasih” bisa tak
bertanggung-jawab. Bisa menggugurkan/membunuh
kandungan. Ada juga gadis yang bunuh diri karena
tak dinikahi padahal terlanjur hamil. Ada pula yg
membunuh pacarnya karena tak mau menikahi saat
didesak.
Dalam Islam ada ajaran Silaturrahim/menjalin tali
kasih sayang yang tulus. Namun dilarang mendekati
zinah sehingga kasih itu benar2 tulus. Bukan
nafsu…Jadi beda dengan ajaran Islam.
Seorang teman berkata: Daripada Palentinan
mendingan Pengantenan (Menikah)!
Merayakan Valentine itu Haram karena Mendekati
Perzinahan/Berzinah
Dengan merayakan Valentine bersama pacar yang
bukan muhrimnya, itu sama dengan mendekati zina:
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮﺍ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﺇِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﻭَﺳَﺎﺀَ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu
jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)
Jangankan berzinah, sekedar menyentuh atau
berpegangan tangan dengan wanita yang bukan
muhrimnya saja siksanya melebihi daripada ditusuk
dengan jarum besi kepalanya:
“Seorang ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi
adalah lebih baik ketimbang menyentuh wanita yang
tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani, no. 16880,
16881)
Dari Hidayatullah.com:
Kalangan ulama Aceh menyatakan “haram”
merayakan Hari Valentine, khususnya untuk
masyarakat muslim di provinsi itu.
“Haram bagi kaum muslimin merayakan valentine
day karena Islam mengaktualisasikan hari kasih
sayang tidak hanya sekali dalam setahun, tapi
setiap detik dan waktu sepanjang kehidupan,” kata
Tgk Faisal Ali di Banda Aceh, Kamis (10/2).
Hal senada disampaikan Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Kota Dumai, Riau, Roza`i Akbar. Ia
menegaskan, perayaan Hari Valentine (Valentine`s
Day) pada 14 Februari adalah haram bagi umat
Islam.
“Hari Valentine adalah sebuah hari kasih sayang
bagi warga di dunia Barat di luar agama Islam.
Dilihat dari asal muasalnya, diketahui bahwa
Valentine merupakan hari raya bagi kaum non-Islam
di Roma, Italia. Untuk itu, Valentine haram bagi
mereka yang beragama Islam,” tegasnya.
, Saint Valentine sendiri tidak jelas
asal-usulnya. Ada 3 oknum yang diduga merupakan
Saint Valentine yang “Asli”:
* Seorang Pendeta di Roma
* Seorang Uskup di Interamna (modern Terni), atau
* Seorang “Syuhada di Propinsi Roma di Afrika
Tanggal perayaannya pun sebelumnya berbeda-
beda. Ada yang tanggal 6 Juli, 30 Juli, dan terakhir
14 Februari!
Sejarah Valentine pun tidak jelas. Paling tidak ada
beberapa versi. Pertama berdasarkan Nuremberg
Chronicle (1493) menyatakan seorang Pendeta
Roma mati “Syahid” saat pemerintahan Claudius II
(Claudius Gothicus). Dia dihukum mati karena
menikahkan pasangan Kristen. Tahun kematiannya
pun tak jelas. Ada yang menyatakan tahun 269, 279,
dan 273 masehi.
Alban Butler dan Francis Douce menyatakan bahwa
Hari Valentine dibuat untuk menggantikan hari raya
kaum Romawi: Lupercalia untuk merayakan Dewi
Juno sang pensuci
Banyak legenda Valentine dibuat di abad ke 14 di
Inggris oleh Geoffrey Chaucer dan teman-temannya.
Perayaan Hari Saint Valentine itu haram dengan
dalil:
Mengikuti/Membebek Budaya Kaum Kafir yang
Penuh Maksiat:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka
dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan
Abu Dawud.
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia
termasuk dari kaum tersebut.” (HR At-Tirmizi).
Artinya jika kita mengikuti budaya kaum kafir yang
negatif tersebut, maka kita termasuk kaum kafir
yang layak dimasukkan ke neraka.
Merayakan Saint Valentine berarti mencintai Saint
Valentine. Maka di akhirat akan berkumpul bersama
Saint Valentine padahal menurut Islam, kaum
Kristen yang mempertuhankan Nabi Isa adalah kafir
dan masuk neraka:
ﻓَﻤَﺎ ﻓَﺮِﺣْﻨَﺎ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻓَﺮَﺣَﻨَﺎ ﺑِﻘَﻮْﻝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
– « ﺃَﻧْﺖَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ » . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ –
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ، ﻭَﺃَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ
ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺤُﺒِّﻰ ﺇِﻳَّﺎﻫُﻢْ ، ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺃَﻋْﻤَﻞْ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ
“Kami tidaklah pernah merasa gembira
sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a
man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang
yang engkau cintai).”
Anas pun mengatakan,
ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ،
ﻭَﺃَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺤُﺒِّﻰ ﺇِﻳَّﺎﻫُﻢْ ، ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺃَﻋْﻤَﻞْ ﺑِﻤِﺜْﻞِ
ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ
“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap
bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku
pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal
seperti amalan mereka.”
Kalau orang Kristen merayakan hari Valentine, itu
wajar. Mereka merayakan hari kematian pendeta
mereka.
Tapi kalau ada orang Islam yang merayakan hari
Valentine, otaknya ditaruh ke mana? Bisa pinteran
sedikit tidak? Kok merayakan hari kematian pendeta
Kristen?
Dengan mengikuti kaum kafir, maka kita sudah
menganggap mereka sebagai pemimpin kita.
Padahal itu dilarang:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah
pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,
maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-
Maidah: 51).
Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah
bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak
umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam
lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke
dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai
Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Narsani?’
Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang
kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika
kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak
lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al
Baqarah 120]
Referensi :