Jumat, 03 Februari 2017

Sebelum Meninggal Dia Mengatakan, “Aku Mencium Bau Surga!”

Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda,
“Ada tujuh golongan orang yang akan mendapat
naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari
naunganNya…di antaranya, seorang pemuda yang
tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”
Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhr
RA, ketika perang Uhud ia berkata, “Wah…angin
surga, sungguh aku telah mecium bau surga yang
berasal dari balik gunung Uhud.”
Seorang Doktor bercerita kepadaku, “Pihak rumah
sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa
ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang
dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut
adalah seorang pemuda yang sudah meninggal -
semoga Allah merahmatinya-. Lantas bagaimana
detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan
ribuan orang meninggal. Namun bagaimana
keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula
dengan akhir hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera
kedua orang tuanya -semoga Allah membalas
kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit
militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu
menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat
berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia
menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar
segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah
dan jengkel? Atau apa?
Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut
mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya
akan meninggal… tenanglah… sesungguhnya aku
mencium bau surga.!’ Tidak hanya sampai di sini
saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di
hadapan pada dokter yang sedang merawat.
Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk
menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka,
‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, jangan
kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang
aku mencium bau surga.’
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar
mendekat lalu mencium keduanya dan meminta
maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia
mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya
dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu
alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar
rasulullah. ‘ Ruhnya melayang kepada Sang
Pencipta Subhanallahu wa Ta’ala.
Allahu Akbar… apa yang harus kukatakan dan apa
yang harus aku komentari… semua kalimat tidak
mampu terucap… dan pena telah kering di tangan…
aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan
mengingat Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala,
‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di
dunia dan di akhirat.’ (Ibrahim: 27).
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.”
Ia melanjutkan kisahnya,
“Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia
dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat
memandikan mayat yang ada di rumah sakit
tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan
yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan
sesudah shalat Maghrib pada hari yang sama.
I. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah
hadits shahih Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam
bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin
meninggal dengan dahi berkeringat.” Ini merupakan
tanda-tanda Husnul Khatimah .
II. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian
juga pada persendiannya seakan-akan dia belum
mati. Masih mempunyai panas badan yang belum
pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas
memandikan mayat. Padahal tubuh orang yang
sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.
III. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang
membaca tasyahud yang mengacungkan jari
telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan
persaksiaannya, sementara jari-jari yang lain ia
genggam.
Subhanallah… sungguh indah kematian seperti ini.
Kita bermohon semoga Allah menganugrahkan kita
Husnul Khatimah .
Saudara-saudara tercinta… kisah belum selesai…
Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang
pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya?
Tahukah anda apa jawabannya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya
dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di
depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang ter-
larang? Atau ia tidur pulas hingga terluput
mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr,
narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia
kerjakan? Mengapa ia dapatkan Husnul Khatimah
yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun
mengidam-idamkannya; meninggal dengan mencium
bau surga.
Ayahnya berkata,
‘Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam
sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan
seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh
berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan
termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di
SMU’.”
Aku katakan, “Maha benar Allah yang berfirman,
‘Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb
kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu
merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga
yang telah dijanjikan Allah kepadamu” Kamilah
Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan
di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang
kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya
apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu)
dari (Rabb) Yang Maha Pengam-pun lagi Maha
Penyayang.’ (Fushshilat: 30-32).”
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN KARYA
MUHAMMAD BIN SHALIH AL-QAHTHANI, PENERBIT
DARUL HAQ, TELP.021-4701616 sebagai yang
dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-
Jabir)
alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar