Jumat, 03 Februari 2017

Kisah Rasulullah Memaafkan Wanita Yahudi yang Meracuninya

Muslimahdaily - Diceritakan oleh Anas, salah
satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘al
hi
wasallam , bahwa ada seorang wanita Yahudi
datang kepada Rasulullah dengan membawa
seekor kambing (bakar) yang telah diracuni.
Kemudian beliau memakan sebagian darinya.
Lalu Rasulullah mengutus seseorang untuk
memanggil wanita (yang memberi kambing) itu
dan wanita itu pun datang. Rasulullah segera
bertanya kepadanya tentang hal itu.

Wanita itu menjawab, “Saya ingin
membunuhmu.”
Para sahabat berkata, “Perlukah kita membunuh
wanita ini?”
“Jangan!” jawab Rasulullah.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya melihat
bekas racun itu senantiasa berada di langit-langit
mulut Rasulullah”
(Hadist Riwayat Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
Ahmad dan lainnya)
Hadist tersebut menceritakan kejadian setelah
Rasulullah mengalahkan yahudi di Madinah pada
Perang Khaibar. Wanita yahudi tersebut sangat
memusuhi Rasulullah. Ia yakin bahwa dengan
meracuni hidangan untuk Rasulullah maka ia
akan sukses membalas kekalahan yang dialami
oleh Kaum Yahudi.
Saat ditanya alasannya meracuni daging kambing
tersebut, ia tidak membantah bahwa ia ingin
meracuni Rasulullah dan menjawab, “ Saya pikir
jika engkau memang benar seorang nabi, maka
racun tersebut tidak akan berbahaya untukmu.
Namun apabila engkau seorang raja, maka
engkau memang pantas untuk dibunuh”.
Dibanyak negara, jika ada seseorang yang
tertangkap berusaha membunuh pemimpinnya
maka akan ditanggapi secara serius dan akan
mendapatkan hukuman yang sangat berat.
Namun, reaksi Rasulullah saat mendengar alasan
wanita itu justru melarang para sahabat untuk
membunuh wanita tersebut.
Walaupun wanita tersebut tidak dihukum mati
karena telah meracuni makanan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak hadist yang
mengatakan bahwa ia dikenakan hukum mati
karena daging kambing beracun itu sebelum
dimakan oleh Rasulullah, dimakan oleh salah
satu sahabat nabi, Bishr Ibn Al-Baraa, hingga
akhirnya ia wafat. Tindakan ini diambil karena
dalam islam pembunuhan tidak dapat ditoleransi.
Walaupun Rasulullah akan selalu memaafkan
segala perlakuan buruk terhadap dirinya, beliau
tetap tidak akan melanggar hukum yang sudah
ditetapkan oleh Allah.
Kisah di atas menunjukan sikap pemaaf
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang patut
kita contoh. Begitu juga dengan sikap beliau
yang selalu memastikan untuk memilih tindakan
yang benar di berbagai situasi. Sebagian orang
berpikir bahwa sikap – sikap Rasulullah dalam
menghadapi berbagai keadaan hanya dapat
diaplikasikan pada urusan agama. Namun, dalam
islam tidak ada perbedaan antara urusan agama
dan ‘dunia’. Semua hal dalam kehidupan seorang
muslim harus mengikuti tuntunan agama. Karena
itu, sikap – sikap rasulullah dalam menghadapi
berbagai situasi dapat menjadi panutan dalam
segala aspek kehidupan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar